KomandoRakyat – Keputusan kontroversial diambil oleh Pemerintah Kota Manado di bawah kepemimpinan Wali Kota Andrei Angouw.
Alih-alih menyediakan fasilitas publik yang netral, Pemkot Manado justru merestui penggunaan Mission Center GMIM sebuah bangunan yang selama ini lekat dengan identitas pelayanan rohani dan umat Kristiani sebagai arena utama Grand Finals turnamen e-sports berskala nasional, PUBG Mobile Pro League (PMPL) ID Fall 2026.

Langkah ini sontak menuai sorotan tajam publik. Di saat fungsi dasar gedung tersebut seharusnya menjadi pusat pembinaan moral dan spiritual umat, tangan dingin pemerintah justru mengubahnya menjadi lautan sorak-sorai, banting smartphone, dan adu tembak virtual demi mengejar pencitraan modernisasi pemuda.
Agung Chaniago, Country Manager PUBG Mobile Indonesia, sebelumnya mengklaim pemilihan Manado tak lepas dari sokongan penuh pemerintah daerah
Namun, dukungan yang dibanggakan ini menyisakan tanda tanya besar di kalangan masyarakat: apakah ambisi mengejar predikat “kota ramah e-sports” harus mengorbankan marwah fasilitas keagamaan?
Kehadiran sponsor besar seperti Infinix melalui lini gaming-nya, Infinix GT 50 Pro, kian menegaskan bahwa gelaran berhadiah total USD 90.000 (sekitar Rp1,56 miliar) ini lebih mengutamakan nilai ekonomis dan panggung korporasi ketimbang pertimbangan etis pemanfaatan aset umat.
Hingga berita ini diturunkan, babak penentuan yang berlangsung sejak 28 hingga 30 Agustus 2026 di dalam gedung pelayanan rohani tersebut terus berjalan di tengah kritik pedas masyarakat yang menilai Pemkot Manado kehilangan komitmen dalam menjaga batas antara ruang sekuler, komersial, dan kesucian fasilitas keagamaan.















